Tari Melayu Di Sumatera Utara: Kajian Sosial, Historis Dan Filosofis

 

TARI MELAYU DI SUMATERA UTARA: KAJIAN SOSIAL, HISTORIS, DAN FILOSOFIS

Oleh: M. Muhar Omtatok

Tari Melayu di Sumatera Utara merupakan representasi budaya yang mencerminkan hubungan antara manusia, lingkungan, dan sistem kepercayaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis fungsi, sejarah, serta kosmologi dalam tari Melayu di Sumatera Utara. Metode yang digunakan adalah studi literatur dengan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tari Melayu berkembang dari praktik ritual animisme menuju bentuk sosial dan pertunjukan, dengan pengaruh Islam yang signifikan namun tetap mempertahankan identitas lokal. Tari Melayu juga mengandung nilai kosmologis yang kompleks serta fungsi sosial yang kuat dalam masyarakat.

Kata kunci: Tari Melayu, Sumatera Utara, budaya, kosmologi, fungsi tari


Pendahuluan

Tari dalam kebudayaan Melayu Sumatera Utara merupakan ekspresi aktivitas sosial dan budaya yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. Tari merupakan fenomena universal dalam kebudayaan manusia yang berkaitan dengan tenaga, waktu, dan ruang sosial.

Dalam masyarakat Melayu, tari memiliki fungsi yang beragam, mulai dari ritual keagamaan hingga hiburan sosial. Menurut Muhammad Takari, tari dapat diklasifikasikan berdasarkan fungsinya menjadi tari religius dan tari sosial.

Sejarah perkembangan tari Melayu Deli menunjukkan bahwa seni ini berakar dari kepercayaan animisme. Menurut Dada Meuraxa, masyarakat Melayu pada masa awal menggunakan tari sebagai bagian dari ritual pemujaan terhadap dewa dan roh nenek moyang.

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tari Melayu di Sumatera Utara secara komprehensif, meliputi aspek historis, fungsi sosial, bentuk gerak, serta kosmologi yang terkandung di dalamnya.


Metodologi

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi literatur. Data dikumpulkan dari buku, jurnal ilmiah, dan sumber-sumber akademik terkait seni tari Melayu.

Analisis dilakukan dengan:

  1. Mengkaji teori-teori tari dari para ahli
  2. Menginterpretasikan data historis dan budaya
  3. Menghubungkan aspek gerak, fungsi, dan kosmologi tari Melayu

Pendekatan ini merujuk pada pemikiran bahwa tari harus dipahami dalam konteks sejarah dan struktur sosial masyarakat.


Hasil Penelitian

1 Definisi dan Klasifikasi Tari

Menurut Soedarsono, tari adalah:

“ekspresi jiwa manusia dalam gerak ritmis yang indah.”

Ia membagi tari menjadi tiga kategori:

  • Tari ritual (sakral, trance)
  • Tari hiburan (sosial)
  • Tari pertunjukan (estetis)

Sementara itu, Bagong Kussudiardja mengemukakan bahwa tari berkembang dalam tiga periode:

  • Tradisional awal
  • Klasik
  • Kreasi baru


2 Konsep Tari dalam Perspektif Melayu

Menurut Mubin Sheppard (1972), terdapat empat istilah utama dalam tari Melayu:

  • Tandak (langkah kaki)
  • Igal (gerak tubuh)
  • Liok (lenggok dan membungkuk)
  • Tari (gerak tangan dan jari yang anggun)

Istilah “tari” dianggap paling penting karena merepresentasikan kehalusan gerak khas Melayu.


3 Sejarah dan Perkembangan Tari Melayu Sumatera Utara

Tari Melayu Sumatera Utara berasal dari tradisi animisme dan berkembang seiring masuknya pengaruh Islam. Pada awalnya, tari digunakan dalam ritual persembahan, namun kemudian berkembang menjadi hiburan sosial dan pertunjukan.

Perkembangan ini juga terlihat dari perubahan:

  • Tempo (dari lambat menjadi variatif)
  • Fungsi (ritual → sosial → estetis)
  • Pengaruh (Islam melalui zapin, rodat dan sejenisnya)

4 Gerak dan Estetika Tari Melayu

Gerak tari Melayu terinspirasi dari alam:

  • Ayunan padi
  • Ombak laut
  • Pelepah kelapa
  • Kupu-kupu

Ciri utama:

  • Lembut
  • Harmonis
  • Berirama

Gerakan diwujudkan melalui lenggok badan, gerak tangan, kaki, dan lentikan jari.


5 Kosmologi dan Filosofi Tari Melayu Sumatera Utara

Struktur Kosmos

  • 8 penjuru mata angin
  • 7 petala (lapisan kosmos)
  • 3 alam:
    • Hijau (spiritual)
    • Kuning (manusia)
    • Merah (fisik)

Dimensi Spiritual

Kepercayaan terhadap:

  • Mambang
  • Poyang
  • Jembalang

Konsep “akuan” menunjukkan keterlibatan spiritual penari.

Peran Penari

  • Dayang Nan Tujuh / Sembilan
  • Awang Lebih


6 Ragam Tari Melayu Sumatera Utara


Tari Ritual

  • Menghanyut Lancang / 
  • Meniti Gobuk
  • Tari Lukah
  • Panglima Bungkok
  • Mengirik Padi
  • Tari Inai / Tari Dulang
  • Gubang
  • Tari Giring-Giring
  • Menjunjung Duli
  • Junjung Sembah


Tari Sosial

  • Zapin
  • Rentak Sembilan
  • Ronggeng / Joget Melayu

Sendratari

  • Mendu
  • Makyong


7 Rentak Sembilan Melayu Deli

  1. Kuala Deli / Lenggang Patah Sembilan
  2. Mak Inang Pulau Kampai
  3. Mak Inang Pak Malau
  4. Pulau Sari
  5. Tanjung Katung
  6. Hitam Manis
  7. Sri Langkat
  8. Anak Kala
  9. Cek Minah Sayang

8 Nilai Budaya Melayu

  • Etika: sopan santun, hormat
  • Estetika: gerak halus, busana elegan
  • Simbolisme: lapan penjuru, tujuh petala
  • Sosial: gotong royong, musyawarah


Pembahasan

1 Integrasi Fungsi Tari Melayu

Tari Melayu menunjukkan integrasi yang erat antara fungsi sosial, estetika, dan spiritual. Dalam perkembangannya, tari tidak hanya  sebagai sarana ritual dan ekspresi nilai-nilai budaya, tapi juga berfungsi sebagai media hiburan. Transformasi dari bentuk ritual menuju pertunjukan tidak serta-merta menghilangkan nilai kosmologis yang terkandung di dalamnya, melainkan mengalami adaptasi sesuai dengan dinamika masyarakat pendukungnya.

2 Sinkretisme Budaya dalam Tari Melayu

Pengaruh Islam dalam perkembangan tari Melayu memberikan warna baru dalam bentuk penyajian dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Namun demikian, pengaruh tersebut tidak sepenuhnya menggantikan struktur kepercayaan lama. Hal ini menunjukkan adanya sinkretisme budaya, yaitu perpaduan antara tradisi lokal dengan pengaruh luar yang menghasilkan bentuk budaya baru tanpa menghilangkan identitas aslinya.

3 Tari dalam Perspektif Struktur Sosial

Pendekatan yang dikemukakan oleh Edi Sedyawati menegaskan bahwa tari tidak dapat dipisahkan dari struktur sosial masyarakat. Dalam konteks ini, tari Melayu memiliki beberapa fungsi utama, yaitu:

  • Sebagai media ekspresi budaya masyarakat Melayu
  • Sebagai sarana komunikasi simbolik yang menyampaikan nilai, norma, dan kepercayaan
  • Sebagai representasi identitas kolektif yang memperkuat solidaritas sosial

Dengan demikian, tari menjadi bagian integral dari kehidupan sosial masyarakat Melayu.

4 Dimensi Kosmologi dalam Tari Ritual Melayu

Tari ritual Melayu memiliki keterkaitan yang kuat dengan sistem kosmologi yang tercermin dalam properti, pola gerak, dan filosofi keseluruhan pertunjukan. Kosmologi tersebut diwujudkan dalam beberapa konsep utama, yaitu:

  • Delapan penjuru mata angin, sebagai simbol penjaga alam horizontal
  • Tujuh petala, sebagai lapisan vertikal kosmos
  • Tiga alam, yang terdiri atas:
    • Alam atas (spiritual)
    • Alam tengah (manusia)
    • Alam bawah (dunia fisik)

Selain itu, terdapat pula kepercayaan terhadap makhluk tak kasat mata, seperti:

  • Mambang, yang dipercaya bersemayam di penjuru mata angin
  • Jembalang, sebagai simbol unsur atau anasir alam
  • Poyang, sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur

Konsep “akuan” dalam diri penari menunjukkan adanya keterlibatan spiritual yang mendalam, di mana penari tidak hanya berperan sebagai pelaku seni, tetapi juga sebagai medium yang menghubungkan dunia manusia dengan dimensi spiritual.

5 Peran Penari dalam Struktur Ritual

Dalam konteks tari ritual Melayu, terdapat penari-penari tertentu yang memiliki peran khusus, yaitu:

  • Dayang Nan Tujuh / Dayang Nan Sembilan, yang umumnya diperankan oleh perempuan
  • Awang Lebih, yang diperankan oleh laki-laki dan biasanya berjumlah ganjil

Keberadaan penari ini menunjukkan adanya struktur simbolik dan aturan tertentu dalam pelaksanaan tari ritual, yang berkaitan erat dengan kepercayaan dan sistem kosmologi masyarakat Melayu.

6 Nilai-Nilai Budaya Melayu dalam Tari

Nilai-nilai budaya Melayu, seperti turai dan bergagan, tercermin dalam berbagai aspek tari, meliputi:

  • Etika: mencerminkan sopan santun dan rasa hormat
  • Estetika: tampak pada kehalusan gerak dan keindahan busana
  • Simbolisme: terlihat dalam penggunaan konsep kosmologi dan perlengkapan tari
  • Sosial: tercermin dalam semangat gerak gotong royong dan musyawarah

Nilai-nilai ini memperkuat posisi tari sebagai media pendidikan budaya sekaligus sebagai sarana pelestarian identitas Melayu.


Kesimpulan

Tari Melayu di Sumatera Utara merupakan sistem budaya yang kompleks dan multidimensional. Tari tidak hanya berfungsi sebagai seni, tetapi juga sebagai refleksi kosmologi, nilai sosial, dan sejarah masyarakat Melayu.

Pelestarian tari Melayu harus mempertimbangkan tidak hanya bentuk gerak, tetapi juga makna filosofis dan nilai budaya yang terkandung di dalamnya.


Daftar Pustaka 

Kussudiardja, B. (1981). Filsafat Seni Tari. Yogyakarta: Akademi Seni Tari Indonesia.

Meuraxa, D. (1973). Sejarah Kebudayaan Suku-Suku Di Sumatera Utara. Medan: Sastera Medan.

Sedyawati, E. (1986). Budaya Indonesia: Kajian Arkeologi, Seni, dan Sejarah. Jakarta: UI Press.

Sheppard, M. (1972). Taman Indera: Malay Decorative Arts and Pastimes. Kuala Lumpur: Oxford University Press.

Soedarsono. (1977). Pengantar Pengetahuan dan Komposisi Tari. Yogyakarta: Akademi Seni Tari Indonesia.

Takari, M. (2008). Seni Pertunjukan Melayu Sumatera Utara. Medan: USU Press.






Komentar