Senin, 29 Desember 2008

JAMPI - JAMPI PUAK MELAYU


oleh: M MUHAR OMTATOK

Orang Melayu, menyebut mantera dengan sebutan beragam, misalnya Jampi, Tuju dan lain-lain. Mantera sebagai ujar-ujaran religi dan magi, sebenarnya berarti Pesona.
Keduaa kata ini sering muncul dalam membicarakan mantera. Secara sederhana perbedaan dua kata ini adalah bahwa religi berarti agama sedangkan magi berarti ilmu gaib.

Dr.H.Th. Fischer menganggap lahirnya konsep religi dan magi berasal dari timbulnya kepercayaan terhadap animisme dan dinamisme. Animisme dimaksudkan sebagai kepercayaan terhadap adanya roh. Orang yang percaya kepada roh merasa terikat dan bersikap menghamba kepada roh itu. Sementara dinamisme dimaksudkan sebagai kepercayaan terhadap adanya tenaga tidak berpribadi di dalam diri manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan, atau benda-benda. Tenaga atau kekuatan itu dapat juga terdapat pada kata-kata yang diucapkan atau dituliskan atau direkamkan (dimasukan) pada objek lainnya. Kepercayaan terhadap tenaga tidak berpribadi atau dinamisme ini menjadi magi (lihat Fischer, 1980:153).

Perbedaan kepercayaan yang mendasari timbulnya dua konsep itu akibatnya adanya perbedaan sikap orang yang memiliki kepercayaan tadi. Pada religi manusia bersikap mengabdi atau menghamba kepada kekuasaan atas alami. Pengabdian atau penghambatan menjadikan manusia melakuakan sembahyang dan penyerahan, penghambatan, pemuja, permohonan, dan terima kasih. Upacara religius juga merupakan ungkapan pengabdian manusia kekuasaan luhur yang menggembang kehidupan manusia.

Sementara itu, pada magi, manusia bersikap mempengaruhi kekuasaan atas alam untuk menggenggam nasibnya sendiri atau mungkin nasibnya orang lain. Upacara magis di maksudkan untuk mendapatkan pengaruh yang dilaksanakan menurut aturan-aturan yang tertentu. Cara yang betul, perlengkapanyang sesuai dengan aturan, pemilihan waktu dan tempat yang benar, pembawa atau pelaku yang berwenang akan membawa keberhasilan dalam dapatkan pengaruh. ( lihat Fischer, 1980:142-143 ).

Pemilik Jampi/Mantera

Hubungan antara manusia dengan dunia gaib sebagaimana dalam praktek perbuatan religius dan magis, dapat dilaksakan oleh siapa pun namun, jika urusan berkomunikasi dengan dunia gaib itu berkenaan dengan urusan yang penting, orang akan meminta bantuan kepada orang yang di anggap ahli, berwenang,atau professional. Di masyarakat Melayu, orang yang dianggap ahli tersebut disebut Tok Pawang, Tukang Ceritera, Tuan Guru mempunyai arti yang bisa disamakan dengan Tok Bomo ( dukun ).

Jampi/Mantera dapat di pakai oleh siapa saja. Namun, dalam hal-hal khusus atau luar biasa, pada saat seseorang merasa tidak mampu melakukannya,misalnya karena ‘sesuatu yang menghalangi, maka urusan menggunakan jampi diserahkan kepada ‘Orang Pintar’ atau Bomoh yang berfungsi sebagai perantara atau seorang yang memilik maksud tertentu atau menderita penyakit dengan dunia gaib.

Koentjaraningrat membedakan pemilik mantera profesional sesuai dengan karakteristik tugasnya menjadi tiga yaitu pendeta, dukun, dan syaman. Sementara itu Fischer membedakan pemilik mantra sesuai dengan efek positif dengan efek negatif dari hasil pekerjaannya itu menjadi dua yaitu pawang dan tukang sihir. Pendeta, dukun, dan syaman ini jika dikorelasikan ke Melayu maka disamakan dengan ‘Tuan Guru’, ‘Tok Pawang’ dan ‘Bomoh’.


Diksi dan Strukturalisme

Scott menyebutkan kata diction berasal dari kata latin dicere, dictum, yang berasal mengatakan. Secara singkat diksi didefinisi sebagai pilihan dan penyusunan kata-kata di dalam pidato dan karangan tertulis ( Scott, 1997: 77 ). Sementara itu, Abrams mendefinisikan diksi sebagai pilihan kata-kata, fase dan kiasan. Diksi dapat di analisis dengan menggunakan beberapa kategori sesuai dengan tingkat kosa kata dan frasenya, misalnya abstrak atau konkret, keseharian atau formal, teknis atau umum, liberal atau figurati, asing atau kedaerahan, dan kuno atau kontemporer( Abrams, 1981: 140 ).

Mantera memiliki bahasa yang khas, yang dapat disebut sebagai diksi mantra. Misalnya penggunaan dan pemanfaatan potensi bunyi, kata-kata, frase, tipe-tipe kiasan dan simbolisme, masuknya kata-kata tabu atau sacral, serta sejumlah pilihan kata lainnya yang berbeda dan berlainan dari ungkapan verbal di luar mantra. Kekhasan diksi mantra bertolak dan efek khusus yang ingin di capai atau referensi khusus yang ditunjuk. Mantra menunjuk pada dunia gaib dan ingin mendapatkan efek magis dari dunia itu.

Jika kita berpandangan sempit, mungkin kita akan berfikir bahwa pembahasan ini akan mengembalikan Orang Melayu ke era jahiliah.Namun jampi/mantera sebagai karya sastra, merupakan bahan kajian, sebagai salah satu poin pengungkap zaman dimana jampi/mantera itu dipergunakan.

Robet Scholes mengatakan bahwa strukturalisme menempati kedudukan yang istimewa dalam studi sastra karena berusaha membangun suatu model system sastra sebagai referensi eksternal bagi karya individual yang dikaji.

Jantung ide structural adalah gagasan tentang system (the idea of system), suatu realitas yang lengkap memiliki aturan sendiri, yang disesuaikan dengan kondisi baru dengan mentransformasikan ciri-ciri utamanya sejauh mempertahankan struktur sistemnya. Setiap nilai sastra mulai dari kalimat individual sampai pada keseluruhan urutan kata dapat dipandang dalam hubungannya dengan konsep system. Secara khusus dapat dilihat karya individual, genre sastra, dan keseluruhan sastra sebagai system yang berhubungan, serta kesusastraan sebagai suatu system di dalam system yang lebih luas dari kultur manusia (Scholes, 1976 : 10-11).

Konsep dan gagasan strukturalisme, sebagaimana diterangkan oleh Abrams dan Scholes di atas, dijadikan titik tolak dalam menyikapi objek kajian. Dengan pendekatan structural maka operasional kajian diarahkan pada elemen-elemen mantra sebagai struktur verbal yang otonom, yang meliputi diksi, kalimat, dan komposisi seutuhnya. Dengan cara kerja ini dapat dideskripsikan ciri-ciri wujud komposisi mantra beserta seperangkat aturan estetikanya.

Memahami mantra sebagai suatu system yang tersangkut di dalam system yang lebih luas dari kultur manusia, dapat pula dideskripsikan keseluruhan resitasi mantra yang juga melibatkan komponen-komponen lain di luar mantra, sebagaimana tampak dalam praktek upacara magis sebagai satu keutuhan penyajian.

Konsep pendekatan fungsional dalam penelitian ini mengambil konsep pendekatan fungsional dalam studi antropologi. Di bawah ini merupakan kutipan tentang fungsionallisme yang oleh Malinowski.

“Malinowski mengajukan sebuah orientasi teori yang dinamakan fungsionalisme, yang beranggapan atau berasumsi bahwa semua unsur kebudayaan bermanfaat bagi masyarakat dimana unsur itu terdapat. Dengan kata lain, pandangan fungsionalisme terhadap kebudayaan mempertahankan bahwa setiap pola kelakuan yang sudah menjadi kebiasaan, setiap kepercayaan dan sikap yang merupakan bagian dari kebudayaan dalam suatu masyarakat, memenuhi beberapa fungsi mendasar dalam kebudayaan bersangkutan. Menurut Malinowski fungsi dari satu unsure budaya adalah kemampuan untuk memenuhi beberapa kebutuhan dasar atau beberapa kebutuhan yang timbul dari kebutuhan dasar, yaitu kebutuhan sekunder dari para warga suatu masyarakat”. (Ihromi,ed. 1981:59-60.).

Berbeda dari Malinowski, A.R. Radcliffe-Brown memandang timbulnya bebagai aspek perilaku sosial didorong untuk mempertahankan struktur social masyarakat. Struktur social dari suatu masyarakat adalah seluruh jaringan dari hubungan-hubungan sosial yang ada (Ihromi, ed. 1981: 61). Teori fungsionalsme Redcliffe Brown ini lazim disebut teori fungsionalisme struktural.

Dalam bukunya Struktur dan Fungsi Masyarakat Primitif (terjemahan Ab. Rajak Yahya), Redcliffe-Brown menyebutkan bahwa konsep fungsi melibatkan struktur yang terjadi dari satu rangkaian hubungan di antara unit entity. Dengan kata lain, konsep fungsi berkaitan dengan peranan dan sumbangan suatu unit entity pada keseluruhan yang lebih luas. Penerapan konsep itu akan menghadapkan tiga masalah yang saling berkaitan. Ketiga masalah itu adalh sebagai berikut.
(a) Masalah Morfologi
Bagaimanakah jenis struktur yang ada? Apakah perbedaan dan Persamaannya? Bagaimanakah klasifikasinya?
(b) Masalah Fisiologi
Bagaimanakah struktur itu menjalankan fungsinya?

(c) Masalah Evolusi
Bagaimanakah jenis yang baru daoat terjadi? (Redcliffe-Brown, 1980: 208-209).

Bertolak dari metode ethnografi berintegrasi secara fungsional, Kaberry (1957) membagi fungsi sosial adat, tingkah laku manusia, dan pranata-pranata sosial ke dalam tiga tingkatan abstraksi.
(a) Tingkatan Abstraksi I

Fungsi sosial dari adat, pranata sosial atau unsure kebudayaan, pengaruh atau efeknya terhadap adapt, tingkah laku manusia dan pranata sosial yang lain dalam masyarakat.
(b) Tingkatan Abstraksi II

Fungsi sosial dari adat, pranata sosial atau unsure kebudayaan, pengaruh atau efeknya terhadap kebutuhan suatu adat atau pranata lain untuk mencapai maksudnya, seperti yang sikonsepsikan oleh warga masyarakat yang bersangkutan.
(c) Tingkatan Abstraksi III

Fungsi social dari adapt atau pranata sosial, pengaruh efeknya terhadap kebutuhan mutlak untuk berlangsungnya secara terintegrasi dari suatu sistem sosial tertentu (Koentjaraningrat, 1982: 167).

Dalam penelitian yang termasuk ke dalam ruang lingkup kajian bahasa dan sastra ini, teori fungsional dalam lapangan kajian antropologi tidak akan diambil secara utuh, tetapi akan dipilih deduai dengan tujuan yang hendak dicapainya.

Berdasarkan gagasan aliran fungsionalisme yang tertera di atas, Jampi atau tuju dapat dianggap sebagai suatu lembaga dari suatu masyarakat tertentu. Jampi atau tuju memiliki bentuk dan teknik tertentu, sementara itu juga memiliki kegunaan dan pemakaian dalam masyarakat. Lebih jauh Jampi dapat dikaji kaitannya dari sudut ekonomi, sosiologi, religi, dan magi. Namun, kajian Jampi dalam penelitian ini tidak akan masuk sejauh itu.

“Anyut buluh dari hulu anyutlah dengan ala intan urat – uratnya,
anak diayun indung diburu menunggu tunam jadi ubatnya. …”
Penggalan jampi tersebut menyiratkan dan mengungkap bahwa disaat itu sudah dipakai jasa sungai untuk menghanyutkan bambu yang diambil dari hulu bersama dengan akar-akarnya, menuju ke hilir. Dalam jampi ini juga mengenalkan kita, jika berburu maka anak binatang buruan tidak turut diburu, namun dirawat dengan baik untuk menjaga ekosistem.

‘Hai Datuk nan besemayam di tengah rebat, bantah usah engkai diaku, turut hendakku…’
Kalimat pada jampi ini bisa kita telaah dari sisi modalitas epistemik ’keharusan’ dalam berbahasa. Dinyatakan dengan keterangan menjelaskan verba, atau inti dari predikat, seperti dua kata ‘Bantah usah” yang berarti ’harus’ patut dan perlu yang berarti mestinya. Kata Bantah usah lebih keras dari pada kata patut dan seharusnya. ‘Kami harus berbicara’, sehingga bisa dilihat bahwa Orang Melayu saat itu telah mempunyai ketegasan dalam berbicara namun tetap beretika.

Ada pula beberapa kosa kata yang kita temukan dalam beberapa jampi yang membuat pemahaman bahwa sezamannya telah atau ada sesuatu itu. Dalam jampi kita bisa menemukan bahwa masyarakat Melayu bersentuhan dengan masyarakat luar di zaman itu. Misalnya kita menemukan koa kata Arab dan sebagainya.



Melayu dan Spiritual


Orang Melayu sangat dekat kehidupannya dengan dunia spritual. Ini mungkin dikarenakan selain Islam sebagai agama wajib orang Melayu, Pagan, Hindu dan Buddha pernah mempengaruhi peradaban Melayu. Hampir setiap perguliran kehidupan, tidak terlepas dari ritual atau pun do'a sebagai mantera.

Pada masyarakat Melayu Sumatera Utara di tepi pantai seperti : Tanjungbalai, Batubara, Pagurawan, Pantai Cermin, Bedagai, Belawan, atau pun di pesisir timur Langkat. Para nelayan percaya lautan dikuasai oleh kuasa gaib. Mereka menyebutnya Mambang Laut.

Mambang laut terbagi atas delapan penguasa dan tinggal 8 penjuru mata angin, yaitu
Mayang Mengurai, Laksemana, Mambang Tali Arus, Mambang Jeruju, Katimanah, Panglima Merah, Datuk Panglima Hitam dan Baburrahman di Baburrahim.

Datuk Panglima Hitam penguasa utara sering juga disebut sebagai Datuk Hitam. Beliau adalah penghulu dari sekalian Mambang.

Masyarakat Melayu yang tidak bersentuhan dengan kebudayaan pantai juga mempercayai adanya Jembalang sebagai penguasa air, tanah atau pun angin. Walau pun budaya Islam sangat melekat bagi kehidupan orang Melayu, kepercayaan terhadap Mambang atau pun Jembalang masih tetap terpelihara dan dicampurbaurkan dengan tradisi keislaman. Ritual Tepung Tawar atau pun Upah – Upah sebagai warisan Pagan dan Hinduisme masih memakai awalan mantera “Kuuuuuuuuuuruuuuus Semangat” walau pun kemudian dikombinasiakn dengan bacaan – bacaan Islam seperti Syalawat. Pembuktian bahwa perguliran kehidupan orang Melayu tidak terlepas dari dunia supranatural bisa kita contohkan sebagai berikut :

“Tongon…tongon…tongon…, batolur engkau sebijik kalau tidak batolur kujual kau ke pasar limo. Rindu kau samo ayah engkau”,
Ini merupakan mantera untuk ayam yang lambat bertelur.

“Sirihku siranting kuning, kumakan di rumpung tolang, cahayo gigiku seperti omas yang kuning. Cahayo mukoku seperti matoari colang cemorlang, tidak dapat ditontang nyato. Cahayo gigiku roguh nasi moncorhong dayang dayad.”
Mantera di atas digunakan untuk memutihkan gigi dan menguatkannya.

“Wali wali batungkat, batang geledek waktu syetan menggamit si fulan disitu juga semangat si fulan pulang. Jangan engkau lalai di tengah rimba, jangan engkau lalai di pinggir sungai, Jangan engkau lalai di tepi pantai, jangan engkau lalai di tengah balai, Jangan engkau lalai di laman, Jangan engkau lalai di tengah rumah, pulang engkau ketempat engkau sendiri di anjung yang tinggi di balai yang besar.”
Mantara di atas digunakan dalam ritual jemput semangat.

“Assalamualaikum aku kirim salam pada jin tanah aku tahu asalmu keluar dari air ketuban, bukan aku melepas bala mustaka, sangkakah, sangkipad melepas bala mustaka. Bukan aku melepas bala mustaka, jin baru melepas bala mustaka. Jin yang tua melepas bala mustaka.”
Mantra di atas untuk persembahan jamu laut.

“Menyia Muhammad Allah lalu”
Mantera singkat di atas digunakan untuk ilmu penderas pukulan.

“Diam Muhammad Allah lalu”
Digunakan dalam ilmu cuca untuk penampar.

Mantra berasal dari bahasa sansekerta yang bermakna pesona. Ianya semakna dengan do’a atau pun jampi orang Melayu di rantau ini menjadikan mantera sebagai pembuka laku agar tuah Sang Maha tercucur restu dalam setiap kegiatan.

Adalah lazim apabila bahasa mantera menggunakan bahasa sansekerta yang dibawa Hinduisme dan Budhaisme, bahasa Melayu Tambo yang dipengaruhi aliran penghayat tempatan serta bahasa Arab atas pengaruh kebudayaan Islam. Dalam pengucapan mantera orang Melayu mempunyai kiat yang agak unik, ada ucapan dalam bentuk narasi biasa, ada ucapan dalam bentuk narasi berlagu bahkan ada ucapan dalam bentuk bersenandung. Inilah khazanah budaya yang mungkin saja kita tidak lagi sefaham dengan pola ini-pola ini.

Lukah Menari
“Tahasih…tahasih mak sibanding siatlukah jumpa bamban si kutarih. Kalau nak tengok lukah menari, nak tengok kaya Allah. Keceti kambing keceti ketasik kegumba jangan. Ingat…ingat… dalam hati kataku tadi lupa jangan. Ingat – ingat dalam hati kataku tadi lupa jangan. Kekebon kita kekebon jangan dibeli mangkuk kerang berhimpun kita ke balai datuk mak sibanding gila sorang. Hilir lugoh mudik lugoh jumpa bembam betali – tali, bukan mudah pekara mudah ada lukah pandai menari.”

Mantera di atas dipergunakan agar lukah atau bubu bisa menari sendiri sambil dibisikkan pada lukah : "usah kau bagi malu bangkitlah menari". Mantera di atas diawali dengan Bismillah dan diakhiri berkat Laaailahaillallah. Jika pembaca mencoba mantera ini pada lukah, jangan terkejut jika luka itu menari sendiri. Jika lukah diikat dengan pena ia akan mampu menulis sendiri apa saja yang kita pertanyakan.

Memindahkan Penunggu Kayu
“Assalamualaikum, walaikumsalam al habib gulkarim, aku tau asal mulamu jadi tatkala loh pun belum, kalam pun belum. Kala laut pupak pupakan gunung lumpat kijangan. Tatkala rumput ngarum – ngarum, hujan merenyai renyaian tunggulah kunun ahoi si buah telor kulit bernama alah intan ahoi kayu selemak kening menanam kayu sialang ahoi oi akar menama kancing bumi banir manaham galah bejuang kulit mename Allah intan ahoi si mali nidai jalan mename ampailah tuan li puulr mename dian sebatang cabang mename alah payung lerang buah mename alah intan ahoi. Silayang – layang ranting mename payung Fatimah”
Mantra di atas dijadikan lagu untuk memuja kayu. Oleh pawang untuk menebang kayu yangn diyakini punya penunggu.

Mengambil Madu Lebah
“Anyut buluh dari hulu anyutlah dengan ala intan urat – uratnya,
anak diayun indung diburu menunggu tunam jadi ubatnya.
Lama sudah tidak ke ladang, habislah padi alah intan ahoi dililit kangkung
lama sudah pawang tidak di pandang hatiku beramuk sedih yang di jantung.
Rancung rancunglah kaki cendawan jangan terancung sayang ahooooiii.
Sibuku buluh, kalaulah ada kasih di awan bintanglah jangan tumbuh di beri tumbuh.
Kalau gugur gugurpun nangka jangan ditimpa alah intan ahoi si cabang pawoh.
Jikalau tidur tidurlah mata jangan bercintalah pawang yang jauh.
Baik – baiklah memegang kemudi supaya usah telangar karang.
Baik – baiklah memegang kemudi supaya jangan orang di dengar orang".

Mantera di atas dilagukan oleh pawang pengambil madu lebah. Diyakini lebah tidak akan menyerang walau tanpa menggunakan asap atau pun penutup kepala.

Memanggil Angin
“Angin Barat gelombang barang oiiii, angin memecah di pintu karang.
Sedayangku tinggal dendam melarat kekasihku lahku pergi okurung dendam bekurung habis tunam tujuh pengikat putus disambar si raja wali,
maksud sedangku sudahlah dapat rayalah musim kembali lagi.
Anak cina menjual bawang.
Bawang dijual halia juga.
Sedayangku gagah melewang takut marah kunun pawang sedia.”
Mantera di atas dibaca sambil bersenandung untuk memanggil angin. Ini biasanya digunakan untuk mendatangkan hujan atau menghalau hujan. Bagi nelayan digunakan juga sebagai pedoman arah tangkapan. Tok bomoh atau dukun mengawali terawangannya terhadap ulah bomoh yang lain juga memakai mantera ini.

Penawar Bisa
“Bismillahirrahmanirrahim, aku tau asal mulamu bisa darah haid siti hawa, surga akan tempatmu, cabut bisamu, naikkan bisa tawarku, kabul do’a pengajar guruku, mustajab kepada aku, menawari bisa…………dikulit jangan si polan. Tawar Allah tawar Muhammad, tawar baginda Rasullah berkat Lailahaillallah".

Ini adalah mantra tawar bisa digunakan untuk mengobati seseorang yang tersengat bisa atau racun binatang. Seperti : ular, lipan, kalajengking dan binatang buas lainnya. Biasanya digunakan bahan bunga berwarna merah atau pun juga air liur yang diambil dengan telunjuk tangan kanan yang ditampung dengan telapak tangan.

Kewibawaan
“Hai manusia, aku tahu asal engkau, mulajadi tatkala engkau ditatang Jibrail di sore ke Magrib, empat puluh empat hari Nur Allah namanya engkau, tujuh hari engkau engkau dikandung Bapak engkau sir Allah namanya engkau, tiga bulan sepuluh hari dikandung ibu engkau kamarullah namanya engkau, jangan engkau melawan aku, jika engkau melawan aku durhaka engkau kepada Allah, durhaka engkau kepada Muhammad, durhaka engkau kepada aku, kabullah aku memakai do’a cuca semula jadi, kabul do’a pengajar guruku, mustajab akan aku berkat Lailahaillallah”

Di atas adalah mantra semula jadi digunakan untuk menimbulkan kharisma, kewibawaan agar disegani oleh manusia.

Wajah Berseri
“Bismillahirrahmanirrahim, hai embun mustika embun, embun bernama Jalalullah, aku memakai mustika embun, aku anak aminullah.”
Mantra mustika embun ini dinaikkan kira – kira pukul 5.30 pagi. Ambil embun dengan kedua telapak tangan, lalu bacakan mantra di atas dan sapukanlah ke wajah searah jarum jam. Mantra mustika embun ini bermanfaat untuk menaikkan seri muka.

Pemanis
“Hai simanggur bulan dan bintang. Matahari terbit di ubun – ubunku, bulan purnama di mukaku, bintang tujuh di keningku, bintang penabur di dadaku. Hai Allah tiada penabur di dadaku. Hai Allah tiada aku kelindihan duduk mak inang canang yang banyak berkat aku memakai si awang yang lebih. Jika aku duduk aku juga yang lebih, jika berdiri aku juga yang lebih. Jika aku berjalan aku juga yang lebih. Dilebihkan Allah, dilebihkan Muhammad, diebihkan baginda Rasullah berkat Lailahaillallah".
Mantera di atas adalah salah satu dari mantera si awang yang lebih yang bermanfaat untuk pemanis. Dinaikkan pada subuh dengan mengambil air liur dengan ibu jari kanan setelah dimantrai sapukan pada wajah, tangan dan dada.

Pelet

“Hai nisan menggarang, nallah mengangkangkan Sariah namanya, engkau yang kata Tuhan mari engkau kemari aku tahu asalmu mula jadi, wadi, muni, mani, maknikam, mari engkau kemari ini tempatnya engkau berkat Lailahaillallah Muhammadarrasulullah.”
Mantera di atas disebut mantera pelepas digunakan untuk memelet seseroang. Caranya adalah tentanglah biji mata seseorang yang akan dipelet sambil membaca mantra pelepas di atas satu nafas kemudian tariklah ke dalam jantung. Anda bisa membuktikan sendiri seseorang itu dengan tiba – tiba akan cinta kepada anda.

Besi Kursani
“Bismillahirrahmanirrahim terdirilah besi kursani di dalam batang tubuhku dak aku mengetahui lahaula walakuwata illabillahi aliulajim yahum kanda dek aku mengetahui. Pil amri saina nan bangkit dek aku lahaula walakuwata illabillahi aliulajim. Sanda manjud Rasullullahi sallallahi alaihi wassallam kullahum sai’an alfatihah”

Mantra di atas adalah salah satu mantera besi kursani. Mantra ini dinaikkan untuk kekebalan pada purnama 13, 14, dan 15.Pengguna mantra ini tidak dibenarkan memulai perkelahian dan dilarang membakar besi ketika dibutuhkan. Pembaca tinggal membaca mantera : “Besi pasak besi kursani, tegang teguh selera dalam badanku berkat Lailahaillallah”.

Dalam adat berilmu orang Melayu mempunyai syarat kemakbulan diantaranya adalah kunci ilmu adalah yakin, dengan yakin ilmu akan makbul, tak boleh mendurhaka orang tua dan guru, ilmu dinaikkan pada saat – saat mustajab yang sudah dinaikkan saja. Dalam ilmu kedigjayaan melayu dikenal langkah panglima yaitu : Saat pelaksanan pengizasahan dengan ritual mandi minyak. Pelaksanaan ritual diselenggarakan pada pukul 18.00 – 01.11 tengah malam dan dikecualikan pada hari Sabtu malam Minggu karena dipercayai hari ini kurang dingin dalam tuah keilmuan. Arah dan duduk sila juga menentukan kemakbulan dari sebuah mantera. Orang Melayu percaya bahasa bercarut atau ucapan makian mengurangi kaidah keilmuan. Di samping itu ibadah kepada sang Ilahi adalah penguat dari suatu ilmu.

Demikianlah kilasan khazanah mantera dalam masyarakat Melayu.

Jika tiada puas Tuan dapatkan
Harap hamba, Tuan maafkan
Barang yang salah tolong betulkan
Itulah saja hamba pohonkan

Tidak ada komentar: