Oleh: M. Muhar Omtatok
Tengkuluk pada Melayu pesisir timur Sumatera Utara
adalah penutup kepala tradisional pria yang menjadi identitas masyarakat
Melayu.
Awalnya, pemakaian kain ikat ini terbatas untuk
kalangan bangsawan atau kerabat kesultanan, namun kini telah meluas sebagai
pelengkap busana adat yang melambangkan kewibawaan dan kehormatan.
Asal-Usul dan Jejak Awal dalam Hikayat
Melayu
Seni ikat kepala dalam tradisi Melayu memiliki akar sejarah yang sangat tua.
Beberapa teks klasik memperlihatkan bagaimana hiasan kepala bukan sekadar
pelengkap busana, melainkan juga simbol status, kebesaran, dan marwah
seseorang.
Dalam Petikan Salatus Salatin pada “Susunan Tertib Adat Istiadat Diraja”,
disebutkan secara jelas aturan berpakaian dan pembahagian jenis persalin
menurut pangkat sosial:
“Maka datanglah persalin; jika akan jadi
Bendahara, lima ceper persalinannya; baju seceper, kain
seceper, destar seceper, sebai seceper, ikat pinggang seceper;
jikalau anak raja-raja dan para menteri cateria empat ceper juga, ikat pinggang
tiada; jikalau bentara sida-sida, hulubalang tiga ceper; kain seceper, baju
seceper, destar seceper...”
Petikan ini menunjukkan bahawa destar telah menjadi salah satu kelengkapan
resmi pakaian kebesaran dalam sistem sosial Melayu, menandai kedudukan dan
darjat pemakai.
Begitu juga dalam Hikayat Malim Deman, salah satu teks tertua yang
menyebut secara eksplisit hiasan kepala raja atau pahlawan, terdapat keterangan
seperti:
“Maka Malim Deman pun
bersanggul destar balung raja-raja, bertengkolok kain kuning bertekat
emas.”
Keterangan ini menegaskan bahawa istilah tengkuluk (tengkolok) sudah dikenal
dalam dunia hikayat Melayu lama dan dikaitkan erat dengan simbol kebesaran,
kekuasaan, dan adat istana.
“Mengkala
Raja sekalian Orang Berbangsa sudah pung genap persalinan, memakai tengkulok,
sebai hingga menyanggah keris, ikat pinggang berpending, kain samping seragi
tengkulok. Penjawat pun bertetampan …”
(Petikan
Istiadat Diraja )
Istilah
dan Penggunaan: Destar, Tanjak, dan Tengkolok
Menurut Wan Yahaya Abdullah (2004), istilah tengkolok, tanjak, dan destar pada
dasarnya merujuk kepada jenis penutup kepala lelaki Melayu yang dibuat daripada
kain dilipat serta diikat menurut bentuk tertentu.
Perbedaan utama ketiganya bergantung kepada daerah dan status sosial pemakai:
- Tengkolok → dipakai oleh raja dan
bangsawan.
- Destar → digunakan oleh rakyat
biasa.
- Tanjak → cuma istilah umum yang
boleh merujuk kepada pelbagai bentuk dan gaya lipatan.
Buku tersebut juga memperincikan lebih daripada 30 jenis lipatan (atau solek), seperti:
Tengkuluk
dalam Budaya Melayu Sumatera Utara
Dalam konteks Melayu di Sumatera Utara, istilah Tengkuluk (juga dieja Tengkulok
atau Tengkolok) digunakan untuk menyebut seni ikat kepala lelaki bangsawan yang
dibuat daripada kain dan memiliki karangan (lipatan atau solek). Tradisi ini
sudah wujud sejak masa lampau, dan penggunaannya erat kait dengan status sosial
dan simbol kehormatan.
Pada bait ke 3 dari Dedeng Sembilan Bait Kedatukan
Sunggal Serbanyaman yang merupakan dedeng atau seni suara tradisional pengiring
Tari Menjunjung Sembah di Kedatukan Sunggal terdapat pula kata “Tengkuluk”:
“Ampun
ke kami Raje Songgal Serbanyaman, ahoi keramat tujoh Petale oi,
Tabik
patik atas tengkulok, ahoi keramat tujoh Petale,
Menjunjong
duli santun betandak,
Patik
sebatang ciade nak selok, ahoi Datuk tujoh Petale oi.”
Sumber lain disebut:
“A
Sumatran variant type of tengkolok worn by royal princes from Deli, Langkat and
Serdang Kingdom”
Artinya, di Sumatera Timur - khususnya Deli,
Langkat, dan Serdang -tengkolok memang dikenal sebagai simbol kebesaran lelaki
Melayu.
Bentuk tengkuluk bagi rakyat biasa baru muncul dari modifikasi atas reka bentuk
tengkuluk raja atau bangsawan. Secara tradisi, masyarakat awam tidak dibenarkan
memakai bentuk yang sama persis dengan milik sultan atau kerabat diraja. Namun,
aturan adat ini kini mulai longgar seiring perubahan zaman.
Dahulu, bahan tengkuluk daripada kain songket hanya diperuntukkan bagi golongan
bangsawan. Kini, bahan tersebut digunakan secara lebih umum. Di masa silam, tengkuluk
juga dianggap memiliki tuah dan marwah, bahkan kadangkala dimasukkan rajah
spiritual untuk menambah aura dan kharisma pemakai.
Dalam kebudayaan Melayu Sumatera Utara, istilah Tengkuluk mempunyai makna yang
setara dengan Tanjak di wilayah Melayu lain, misalnya di Palembang. Namun, di
Sumatera Utara, Tanjak lebih sering digunakan untuk merujuk kepada salah satu
jenis lipatan “menanjak” atau disebut Setanjak.
Ragam
Tutup Kepala dalam Tradisi Melayu Sumatera Utara
Budaya Melayu di Sumatera Utara mengenal beberapa jenis tutup kepala lelaki,
masing-masing dengan fungsi dan simbolnya tersendiri:
Songkok
Terbuat daripada kain baldu, juga disebut kopiah atau peci. Songkok
bangsawan biasanya berpermukaan cekung di tengah (Sultan fashion), sementara yang rata dipakai umum. Ada pula Songkok
Lebai (atau Lobei), berwarna putih, yang dahulu dipakai oleh guru mengaji atau
tokoh agama.
Tengkuluk
(Tengkolok / Tengkulok)
Kain penutup kepala yang umumnya dibuat daripada songket sebagai tanda
marwah dan kebangsawanan. Memiliki ragam bentuk berdasarkan simbol dan karangan
tertentu.
Destar
(Detar, Detagh, Deto)
Jenis tutup kepala lelaki yang biasa digunakan di
Pesisir Timur Sumatera Utara dan Siak, dipakai dalam acara adat tertentu, dan
berfungsi sebagai penutup kepala berhias.
Bulang
Ulu
Jenis ikatan kepala sederhana berupa lilitan kain
tanpa aturan lipatan tertentu. Biasanya dipakai oleh masyarakat kebanyakan
untuk ke bendang (sawah), ke laut, atau bekerja. Jenis ini dianggap paling tua
dan berfungsi praktis.
Ada di beberapa tempat menyebutnya Sebulang,
Sejumbang, Semujam, Semutar.
Jenis
dan Bentuk Lipatan Tengkuluk Melayu di Sumatera Utara
Ragam lipatan tengkuluk Melayu Kota Medan Sumatera Utara
sangat beragam, terdapat puluhan ragam yang terbentang di wilayah Melayu di
wilayah ini. Pembahagian bentuk dasarnya antara lain:
Seludang Buluh - Diibaratkan
seperti kelopak bambu yang membalut tunas; bentuknya sederhana dan belum banyak
mengenal solek, kabarnya sebagai awal bentuk tengkuluk.
Belah Mumbang - Terinspirasi dari bentuk putik kelapa muda; lebih kemas daripada Seludang Buluh.
Setanjak
/ Tanjak - Bermakna “menanjak” atau naik; dibuat dari
kain segi empat yang dilipat menjadi segitiga dan diberi tapak serta bengkung
lipatan.
Lacak - Lipatan pendek yang sederhana, dipakai oleh siapa saja.
Simpulan ujung kain pada tengkuluk
disebut Garam Sebuku dan memiliki makna simbolik tersendiri.
Dalam perkembangannya, bentuk dan solek tengkuluk banyak berkembang dari
tradisi istana Melayu Sumatera Timur, dipengaruhi pula oleh hubungan diplomatik
dan kebudayaan antar kerajaan Melayu di Nusantara. Seni ikat kepala ini menjadi
simbol yang bukan hanya menandakan martabat, tetapi juga melambangkan kehalusan
budi, disiplin adat, dan keindahan budaya Melayu.
Kesimpulan
Tengkuluk adalah warisan penting peradaban Melayu yang memperlihatkan
keterkaitan antara pakaian, kedudukan sosial, dan falsafah hidup. Dari teks
klasik hingga dokumentasi dan tradisi Melayu Sumatera Utara, seni ikat kepala
ini membentuk jatdiri Melayu yang kaya makna simbolik - dari marwah raja hingga
keseharian rakyatnya.
Kini, meskipun fungsi simboliknya mulai bergeser menjadi elemen budaya dan
fashion, nilai-nilai luhur yang terkandung dalam setiap lipatan kainnya tetap
menjadi lambang kehalusan dan kebijaksanaan warisan Melayu.*


.jpg)
.png)






.jpeg)
.png)













Komentar