Tari dan Musik Melayu Sumatera Utara: Ekspresi Budaya, Fungsi Sosial, dan Kosmologi

Tari dan Musik Melayu Sumatera Utara: Ekspresi Budaya, Fungsi Sosial, dan Kosmologi

oleh: M. Muhar Omtatok

Tari dan musik dalam kebudayaan Melayu Sumatera Utara merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Keduanya hadir sebagai ekspresi aktivitas sosial, budaya, dan spiritual masyarakat Melayu yang berkembang secara organik dalam kehidupan sehari-hari. Jika tari adalah manifestasi gerak tubuh dalam ruang, maka musik adalah struktur waktu yang mengatur ritme, dinamika, dan suasana dari gerak tersebut.

Dalam perspektif budaya, tari dan musik bukan sekadar seni pertunjukan, melainkan fenomena universal yang mencerminkan hubungan manusia dengan lingkungan sosial, alam, dan dunia spiritual. Menurut Muhammad Takari, fungsi tari dalam masyarakat Melayu dapat dibagi menjadi dua kategori utama: religius dan sosial. Namun dalam praktiknya, fungsi tersebut selalu terhubung erat dengan musik sebagai penggerak utama.


Sejarah Perkembangan: Dari Ritual ke Estetika Sosial

Sejarah tari dan musik Melayu Sumatera Utara berakar dari kepercayaan animisme yang berkembang pada masa awal masyarakat Melayu. Menurut Dada Meuraxa, tari dan musik digunakan sebagai bagian dari ritual pemujaan terhadap kekuatan gaib, roh nenek moyang, dan entitas alam.

Dalam fase ini:

  • Tari berfungsi sebagai media komunikasi spiritual
  • Musik bersifat repetitif, magis, dan transformatif
  • Instrumen sederhana seperti gendang dan vokal menjadi dominan

Masuknya Islam membawa perubahan besar yang bersifat transformasional:

  • Tempo gerak dan musik menjadi lebih variatif
  • Fungsi bergeser dari ritual menuju sosial dan hiburan
  • Instrumen baru seperti gambus dan rebana mulai digunakan
  • Struktur musikal dipengaruhi tradisi Timur Tengah

Namun perubahan ini tidak menghapus tradisi lama, melainkan menciptakan sinkretisme budaya, di mana unsur animisme dan Islam hidup berdampingan dalam bentuk baru yang khas Melayu.



Konsep Gerak dan Struktur Musikal

Menurut Mubin Sheppard, terdapat empat konsep utama dalam tari Melayu:

  • Tandak (langkah kaki)
  • Igal (gerak tubuh)
  • Liok (lenggok)
  • Tari (gerak tangan dan jari)

Keempat unsur ini tidak dapat dipisahkan dari struktur musik:

  • Tandak mengikuti ketukan gendang
  • Igal dan liok mengikuti alur melodi
  • Gerak tangan (tari) dipengaruhi ornamentasi musikal

Dengan demikian, musik berperan sebagai kerangka struktural yang mengatur seluruh ekspresi gerak. Tanpa musik, tari Melayu kehilangan orientasi ritmis dan emosionalnya.


Klasifikasi Tari dan Musik dalam Konteks Fungsi

1. Ritual: Dimensi Spiritual dan Kosmologi

Dalam konteks ritual, tari dan musik berfungsi sebagai media komunikasi dengan dunia gaib. Bentuk-bentuk seperti:

  • Menghanyut Lancang
  • Meniti Gobuk
  • Tari Lukah
  • Tari Inai
  • Gubang
  • Tari Podang
  • Tari Panglimo Bungkuk
  • Tari Giring-Giring

menunjukkan keterkaitan erat antara gerak, bunyi, dan kepercayaan.

Karakteristiknya:

  • Musik repetitif dan ritmis (dominan gendang dan vokal)
  • Gerak tari bersifat simbolik dan sakral
  • Penari mengalami kondisi “akuan” (trance)

Secara kosmologis, sistem ini mencerminkan:

  • Delapan penjuru mata angin
  • Tujuh Petala - lapisan kosmos
  • Tiga alam (atas, tengah, bawah)

Kepercayaan terhadap makhluk seperti mambang, jembalang, dan poyang memperkuat fungsi spiritual tari dan musik sebagai jembatan antar dunia.


2. Sosial: Hiburan dan Interaksi Kolektif

Dalam konteks sosial, tari dan musik menjadi sarana interaksi masyarakat. Contohnya:

  • Zapin
  • Rentak Sembilan
  • Ronggeng/Joget Melayu

Karakteristik:

  • Musik lebih dinamis dan komunikatif
  • Tempo variatif dan meningkat
  • Interaksi antara penari dan pemusik

Rentak Sembilan Melayu Deli merupakan contoh penting, dengan sembilan ragam gerak yang mengikuti struktur musikal tertentu seperti:
Kuala Deli, Mak Inang, Pulau Sari, hingga Cek Minah Sayang.

Dalam bentuk ini, musik:

  • Mengatur pola langkah
  • Menentukan perubahan gerak
  • Membangun suasana sosial yang cair dan komunikatif


3. Sendratari: Integrasi Naratif

Dalam bentuk teater tradisional seperti Mendu dan Makyong:

  • Tari, musik, dan drama menyatu
  • Musik berfungsi sebagai narasi dramatik
  • Mengiringi dialog, emosi, dan alur cerita

Di sini, musik tidak hanya mengatur gerak, tetapi juga membangun makna dramatik secara keseluruhan.


Ansambel Musik Melayu Tradisional

Dalam praktiknya, tari Melayu selalu diiringi oleh ansambel musik yang khas, antara lain:

  • Gendang: pengatur ritme utama
  • Gong dan tetawak: penanda struktur
  • Serunai, bangsi, serdam: pembawa melodi tradisional
  • Gambus: pengaruh Islam/Timur Tengah
  • Biola: improvisasi melodi
  • Rebana/kompang: nuansa religius

Dalam konteks kerajaan, terdapat musik nobat (tabuh larangan) yang bersifat sakral dan hanya dimainkan dalam upacara tertentu.

Ansambel ini menunjukkan bahwa musik bukan sekadar pengiring, tetapi merupakan sistem yang menentukan bentuk tari secara keseluruhan.

Tentu beragam pula alat musik tempatan Melayu yang berakar dari tradisinya, misalnya ceracap, serdam, tetabuh dan lainnya; yang mengalami pelesapan fungsi saat ini.


Struktur Sosial dan Peran Kolektif

Menurut Edi Sedyawati, tari dan musik tidak dapat dipisahkan dari struktur sosial masyarakat.

Dalam budaya Melayu:

  • Penari dan pemusik bekerja secara kolektif
  • Tidak ada pemisahan tegas antara seni dan kehidupan sosial
  • Pertunjukan menjadi ruang interaksi masyarakat

Struktur simbolik juga terlihat dalam:

  • Dayang Nan Tujuh/Sembilan (perempuan)
  • Awang Lebih (laki-laki)

Hal ini mencerminkan keseimbangan kosmis dan aturan adat.


Nilai-Nilai Budaya Melayu

Tari dan musik Melayu mengandung nilai budaya yang kuat:

  • Etika: sopan santun dan penghormatan
  • Estetika: kehalusan gerak dan bunyi
  • Simbolisme: makna kosmologis
  • Sosial: gotong royong dan kolektivitas

Nilai seperti turai dan bergagan tercermin dalam keselarasan antara gerak dan musik.


Kesimpulan

Tari dan musik Melayu Sumatera Utara merupakan satu sistem budaya yang utuh, kompleks, dan multidimensional. Keduanya tidak dapat dipisahkan karena saling membentuk: musik mengatur ritme dan struktur, sementara tari memvisualisasikan ekspresi musikal tersebut.

Hubungan ini tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga mencerminkan kosmologi, sejarah, dan nilai sosial masyarakat Melayu. Transformasi dari ritual ke bentuk sosial menunjukkan kemampuan budaya Melayu untuk beradaptasi tanpa kehilangan identitasnya.

Oleh karena itu, pelestarian tari Melayu harus dilakukan secara holistik dengan menjaga keberlangsungan musik tradisionalnya, sehingga keduanya tetap hidup sebagai warisan budaya yang dinamis dan berkelanjutan.

Tari Serampang 12 - Beda Generasi di Kota Medan, Sumatera Utara

Budak kecik yang comel berjoget Melayu 

Malai Berinai di Tanjung Lenggang Langkat, Sumatera Utara

Kesenian Melayu Setiap Akhir Pekan di Kota Medan - Sumatera Utara




Komentar