Diaspora Bugis-Makassar Pasca-Perjanjian Bongaya dan Transformasi Politik Melayu: Koneksi Historiografis dengan Tradisi Mandailing
Oleh: M. Muhar Omtatok
Migrasi besar-besaran Bugis-Makassar pasca-Perjanjian Bongaya (1667/1669) merupakan salah satu fenomena penting dalam sejarah Asia Tenggara maritim. Artikel ini bertujuan menganalisis peran diaspora Bugis dalam transformasi politik Kesultanan Johor-Riau-Lingga serta menelusuri kemungkinan koneksi historiografisnya dengan figur Daeng Malela (Namora Pande Bosi) dalam tradisi Mandailing. Metode yang digunakan adalah studi literatur berbasis historiografi klasik dan modern serta pendekatan etnohistoris. Hasil kajian menunjukkan bahwa diaspora Bugis berperan sebagai aktor politik utama melalui institusi Yamtuan Muda dan jaringan kekerabatan, sementara dalam konteks Mandailing, pengaruh tersebut termanifestasi dalam bentuk integrasi kultural dan genealogis. Studi ini menyimpulkan bahwa diaspora Bugis tidak hanya membentuk hegemoni politik di kawasan Melayu, tetapi juga meninggalkan jejak kultural di pedalaman Sumatra, meskipun memerlukan verifikasi lintas disiplin untuk memastikan kesinambungan historisnya.
Kata kunci: Bugis, diaspora, Johor-Riau, Mandailing, historiografi
Pendahuluan
Kekalahan Kesultanan Gowa dalam Perjanjian Bongaya menandai perubahan besar dalam konfigurasi politik dan ekonomi di kawasan Indonesia timur. Dominasi VOC memicu migrasi besar-besaran orang Bugis-Makassar ke berbagai wilayah Nusantara. Dalam kajian M. C. Ricklefs, fenomena ini dipandang sebagai awal munculnya diaspora maritim yang memainkan peran strategis dalam jaringan perdagangan dan politik regional.¹
Sejumlah sejarawan seperti Leonard Y. Andaya dan Barbara Watson Andaya menegaskan bahwa kehadiran Bugis di Semenanjung Malaya bukan sekadar migrasi ekonomi, tetapi intervensi politik aktif yang mengubah struktur kekuasaan lokal.² Dalam konteks ini, figur seperti Daeng Chelak menjadi penting dalam memahami konsolidasi kekuasaan Bugis di Johor-Riau.
Di sisi lain, tradisi lokal di Mandailing mengenal tokoh Daeng Malela yang dalam beberapa narasi genealogis dikaitkan dengan asal-usul Lubis. Hal ini memunculkan pertanyaan tentang sejauh mana diaspora Bugis menjangkau pedalaman Sumatera dan berintegrasi dalam struktur sosial lokal.
Penelitian ini bertujuan: (1) menganalisis peran diaspora Bugis dalam transformasi politik Melayu abad ke-18; (2) mengkaji posisi Daeng Chelak dalam struktur kekuasaan Johor-Riau; dan (3) mengeksplorasi kemungkinan hubungan historis dengan Daeng Malela dalam tradisi Mandailing.
Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan historiografi dan etnohistoris. Sumber utama berupa karya sejarah klasik dan modern seperti Ricklefs, Andaya, dan Pelras, serta sumber sekunder berupa studi antropologi dan tradisi lisan Mandailing.
Analisis dilakukan melalui:
- Kritik sumber (source criticism) untuk menilai validitas data kolonial dan lokal.
- Pendekatan komparatif antara historiografi Melayu-Bugis dan tradisi Mandailing.
- Interpretasi kontekstual terhadap migrasi dan integrasi sosial.
Hasil dan Pembahasan
1. Diaspora Bugis dan Transformasi Politik Melayu
Pasca-Perjanjian Bongaya, diaspora Bugis berkembang sebagai kekuatan maritim yang fleksibel dan adaptif. Mereka tidak hanya berdagang, tetapi juga terlibat dalam konflik politik lokal. Dalam konflik suksesi Johor, Bugis berperan sebagai kingmakers dengan mendukung Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah melawan Raja Kecil.³
Sebagai imbalan, dibentuk jabatan Yamtuan Muda yang dipegang oleh elite Bugis, dimulai dari Daeng Marewah. Struktur ini menjadikan Bugis sebagai penguasa de facto dalam Kesultanan Johor-Riau-Lingga.⁴
2. Peran Daeng Chelak dalam Konsolidasi Kekuasaan
Daeng Chelak memainkan peran penting dalam memperkuat dominasi Bugis melalui strategi politik dan perkawinan. Ia memperluas pengaruh Bugis di Kepulauan Riau dan membangun jaringan kekuasaan lintas wilayah.⁵
Keturunannya kemudian mendirikan Kesultanan Selangor, yang menjadi simbol keberhasilan diaspora Bugis dalam membangun entitas politik baru di luar tanah asalnya.⁶
3. Integrasi Lokal dan Kasus Daeng Malela di Mandailing
Berbeda dengan dominasi politik di wilayah pesisir Melayu, diaspora Bugis di pedalaman Sumatera cenderung berasimilasi dengan masyarakat tempatan. Dalam tradisi Mandailing, Daeng Malela dikenal sebagai tokoh penting dalam pembentukan komunitas dan genealogis marga tertentu.
Istilah “Daeng” menunjukkan kemungkinan afiliasi Bugis, sementara gelar “Pande Bosi” mengindikasikan keahlian metalurgi. Hal ini sejalan dengan karakter diaspora Bugis yang adaptif dan membawa keterampilan teknis.⁷
Namun demikian, tidak adanya bukti arsip kolonial yang eksplisit menunjukkan bahwa hubungan ini masih bersifat hipotetik dan memerlukan pendekatan interdisipliner lebih lanjut.
Kesimpulan
Diaspora Bugis-Makassar pasca-Perjanjian Bongaya merupakan fenomena historis yang memiliki dampak luas terhadap struktur politik dan sosial di Nusantara. Di Semenanjung Malaya, mereka berhasil membangun dominasi politik melalui institusi Yamtuan Muda dan jaringan elite, dengan figur seperti Daeng Chelak sebagai aktor kunci.
Sementara itu, dalam konteks Mandailing, pengaruh Bugis tampak dalam bentuk integrasi kultural dan genealogis yang diwakili oleh figur Daeng Malela. Meskipun hubungan ini belum sepenuhnya terverifikasi secara historiografis, pola migrasi dan adaptasi Bugis memberikan dasar yang kuat untuk hipotesis tersebut.
Penelitian lanjutan berbasis arkeologi, filologi, dan genetika historis diperlukan untuk memperkuat hubungan antara diaspora Bugis dan struktur sosial di pedalaman Sumatera.
Catatan Kaki
- M. C. Ricklefs, A History of Modern Indonesia since c. 1200 (Stanford: Stanford University Press, 2008), 102–105.
- Leonard Y. Andaya, The Kingdom of Johor 1641–1728 (Kuala Lumpur: Oxford University Press, 1975), 215–230.
- Barbara Watson Andaya and Leonard Y. Andaya, A History of Malaysia (London: Macmillan, 1982), 98–105.
- Andaya, The Kingdom of Johor, 222.
- Christian Pelras, The Bugis (Oxford: Blackwell, 1996), 189–195.
- Andaya and Andaya, A History of Malaysia, 120.
- Anthony Reid, Southeast Asia in the Age of Commerce (New Haven: Yale University Press, 1988), 2:145–150.
Daftar Pustaka
Andaya, Barbara Watson, and Leonard Y. Andaya. A History of Malaysia. London: Macmillan, 1982.
Andaya, Leonard Y. The Kingdom of Johor 1641–1728. Kuala Lumpur: Oxford University Press, 1975.
Pelras, Christian. The Bugis. Oxford: Blackwell, 1996.
Reid, Anthony. Southeast Asia in the Age of Commerce. New Haven: Yale University Press, 1988.
Ricklefs, M. C. A History of Modern Indonesia since c. 1200. Stanford: Stanford University Press, 2008.

Komentar