Kamis, 03 November 2011

Makna Berkapur Sirih Bagi Orang Melayu

Tradisi makan sirih merupakan warisan budaya masa silam, lebih dari 3000 tahun yang lampau atau dizaman Neolitik, hingga saat ini. Budaya makan sirih hidup di Asia Tenggara.

Pada mayarakat Puak Melayu, selain untuk dimakan sirih sebagai lambang adat resam dan adat istiadat Melayu yang telah menjadi suatu kepastian di dalam beberapa upacara adat kaum di rantau-rantau Melayu. Dari Upacara Pernikahan hingga Pengobatan tradisi.
Sirih junjung dihias cantik sebagai sebahagian barang hantaran pengantin dan juga sirih penyeri kepada pengantin perempuan. Selain itu di dalam upacara resmi kebesaran istana dan kerajaan juga, sirih junjung memainkan peranan penting, sirih menjadi penyeri majelis dan mengepalai sesuatu perarakan yang diadakan.

Sirih untuk dimakan didalam adat resam puak Melayu diletakkan di dalam tempat yang disebut Tepak Sirih. Tepak terbuat dari kayu berukir, dalam suasana adat tepak dibungkus kain berhias. Ada pula tepak yang berukir terbuat dari logam tertentu. Di beberapa rantau Melayu, Cerana juga difungsikan untuk meletakkan sirih dan pelengkapnya. *(M Muhar Omtatok)

Berikut ini, penjelasan Cik ZAIRI ERIE di Selat Panjang dan Tengku MANSOER ADIL MANSOER di Belanda, mengenai Makna Berkapur Sirih Bagi Orang Melayu:

Zairi Erie



Dalam kehidupan orang melayu dikenal sebagai sebuah tradisi yang disebut dengan berkapur sirih, yaitu tradisi makan sirih yang diramu dengan kapur dan pinang. Tradisi makan sirih merupakan warisan budaya masa silam, lebih dari 300 tahun yang lampau hingga sat ini.

Budaya makan sirih hidup di Asia Tenggara. Pendukung budaya ini terdiri dari berbagai golongan, meliputi masyarakat kelas bawah, pembesar negara, serta kalangan istana.

Tepak sirih digunakan sebagai perangkat yang tidak boleh dilupakan dalam acara-upacara resmi adat. Oleh karena tepak sirih merupakan simbol yang memiliki arti penting, maka pemakaiannya tidak boleh sembarangan.



Di dalam tepak sirih terdapat beberapa perlengkapan yang lainnya seperti Cembul yang berjumlah empat atau lima yang digunakan untuk tempat menyimpan pinang, gambir, kapur, tembakau, dan bunga cengkeh. Bekas sirih yang digunakan untuk menyimpan sirih. Kacip, yang merupakan alat yang berfungsi sebagai pisau untuk memotong dan menghiris buah pinang atau obat-obat tradisional yang terdiri dari tumbuh-tumbuhan.



Gobek, adalah tempat penumbuk sirih yang telah dilengkapi dengan kapur, gambir, pinang, dan cengkeh. Ketur, adalah tempat berludah. Orang yang memakan sirih pasti akan sering mengeluarkan ludah yang berwarna merah, pekat.



Didalam tradisi makan sirih sering disebut dengan ramuan berkapur sirih, yang biasanya dilengkapi dengan sirih, pinang, gambir, tembakau dan kapur. Semua ramuan atau bahan yang digunakan dalam berkapur sirih memiliki makna dan falsafah tersendiri, yang mana sirih memiliki lambang sifat rendah hati, memberi, serta selalu memuliakan orang.

Makna ini ditafsirkan dari cara tumbuh sirih yang memanjat pada para-para,batang pohon sakat, atau batang pohon api-api yang digemarinya, tanpa merusakkan batang atau apapun tempat ia hidup.

Kapur yang memberi lambang hati yang putih bersih dan serta tulus, tetapi jika keadaan memaksa, ia akan berubah menjadi lebih agresif dan marah.

Gambir memiliki rasa pahit melambangkan kecekalan atau keteguhan hati. Makna diperoleh dari warna daun gambir kekuning kuningan. Dimaknai bahwa sebelum mencapai sesuatu, kita harus sabar melakukan proses untuk mencapainya.

Pinang melambangkan keturunan orang yang baik budi pekerti, jujur,serta memiliki derajat tinggi. Bersedia melakukan suatu pekerjaan dengan hati terbuka dan bersungguh sungguh. Makna ini ditarik dari sifat pohon pinang yang tinggi lurus keatas serta mempunyai buah yang lebat dalam setandan.

Tembakau melambangkan hati yang tabah dan bersedia berkorban dalam segala hal. Ini karena daun tembakau memiliki rasa yang pahit dan memabukkan bila diiris halus sebagai tembakau,dan tahan lama disimpan.

Tengku Mansoer Adil Mansoer




Dalam buku Butir Butir Adat Budaya Melayu Pesisir Sumatera Timur dituliskan: Sirih - Pohon yang bersifat memanjat yang perlu akan sandaran tetapi tidak merusak tempatnya menyandar. Rasa daunnya pedas berarti berani. Sirih juga jadi penawar. Dapatlah sirih ini diartikan : dengan sadar merendahkan diri dan sengaja memuliakan orang lain, sedangkan dia sendiri sebenarnya adalah seorang pemberani dan penawar.

Kapur -didapat setelah kerang/batu kapur dibakar dan diairi. Rupanya putih bersih, sifatnya hangat dan medecupkan (membakar). Rasanya payau. Dapatlah kapur itu diartikan: Menyatakan hati putih bersih terhadap sesuatu yang dihadapi, tapi jika perlu dapat pula marah dan melukai, tahan dilebur untuk tujuan yang baik.
Gambir atau kacu diperoleh setelah melalui beberapa usaha dalam perebusan dan penyaringan daun gambir. Rupanya agak kekuning-kuningan, sifatnya "penyamak" rasanya sepat (kelat) dan agak kepahitan. Dapatlah gambir ini diartikan: Menyatakan keuletan (keliatan) dan penguatkan sesuatu.

Pinang tumbuhnya lurus keatas dan berbuah banyak dan setandan. Rupa pinang yang dikupas agak bulat, sifatnya keras dan "penyamak", rasanya kelat. Jika dibelah nampak hatinya (pulurnya) yang agak keputihan. Dapatlah pinang itu diartikan: Menyatakan turunan orang baik baik (tinggi dan lurus) yang bersedia dibelah untuk berbuat membersihkan sesuatu dengan hati yang terbuka dan dengan segala kesunguhan.

Tembakau. Daun tembakau diiris-iris dan dikeringkan untuk tahan lama disimpan dan setiap waktu dapat dipergunakan, Rasanya pahit dan sifatnya memabukkan. Dapatlah tembakau ini diartikan: Menyatakan tahan segala-galanya dan jika perlu bersedia berkorban. Dengan pendek kata: serba judi, buruk atau baik, guna membuang yang jahat.

Menurut penulis, jika sirih disorongkan orang kepada kita, maka dapatlah diartikan sebagai berikut: Orang-orang yang menyorongkan sirih itu seolah-olah berkata; “Wahai Tuan, dengan kesungguhan dan kerendahan hati, saya menghormati Tuan, yang moga moga membawa kebaikan. Tetapi janganlah Tuan anggap rendah atas diri saya disebabkan perbuatan saya ini, oleh sebab jika perlu, saya dapat mempertahankan derajad saya kalau Tuan langgar. Terserahlah kepada Tuan utk memilih ‘hendak buruk’ atau ‘hendak baik’ untuk saya ‘serba jadi’ “. Memakan sirih sekapur yg disorongkan orang berarti perdamaian dan persahabatan.

1 komentar:

Alan Samawa mengatakan...

saya punya alat untuk makan sirih, dari jaman nenek moyag saya di sumbawa..mau saya jual.. kalau berminat boleh hubngi saya.08129882077