Senin, 29 Desember 2008

SIAPA AGAKNYA MELAYU ITU




oleh: M MUHAR OMTATOK

Melayu secara puak (etnis, suku), bukan dilihat dari faktor genekologi seperti kebanyakan puak-puak lain. Di Malaysia, tetap mengaku berpuak Melayu walau moyang mereka berpuak Jawa, Mandailing, Bugis, Keling dan lainnya. beberapa tempat di Sumatera Utara, ada beberapa Komunitas keturunan Batak yang mengaku “Orang Kampong”- Puak Melayu. Ini semua karena diikat oleh kesamaan agama yaitu Islam, Bahasa dan Adat Resam Melayu.

Orang Melayu memegang filsafat: “Berturai, Bergagan, Bersyahadat”.

Berturai bermakna mempunyai sopan santun baik bahasa dan perbuatan dan memegang teguh adat resam, menghargai orang yang datang,serta menerima pembaharuan tamaddun yang senonoh.

Usul menunjukkan asal,

Bahasa menunjukkan bangsa.

Taat pada petuah,

Setia pada sumpah,

Mati pada janji,

Melarat karena budi.

Hidup dalam pekerti,

Mati dalam budi”.

“Tak cukup telapak tangan, nyiru kami tadahkan”.

“Apabila meraut selodang buluh
Siapkan lidi buang miangnya
Apabila menjemput orang jauh
Siapkan nasi dengan hidangnya”.

“Sekali air bah, sekali tepian berubah”.

Bergagan bermakna keberanian dan kesanggupan menghadapi tantangan, harga diri dan kepiawaian.

“Kalau sudah dimabuk pinang,
Daripada ke mulut biarlah ke hati
Kalau sudah maju ke gelanggang
Berpantang surut biarlah mati”.

Bermula dari hulu, haruslah berujung pula ke hilir”.

“Apa tanda si anak melayu
matinya ditengah gelanggang
tidurnya di puncak gelombang
makannya di tebing panjang
langkahnya menghentam bumi
lenggangnya menghempas semak
tangisnya terbang kelangit
esaknya ditelan bumi
yang tak kenalkan airmata
yang tak kenalkan tunduk kulai”.

Bersahadat bermakna Orang Melayu disebut Melayu jika sudah mengucap kalimat syahadat, yaitu mengakui Allah sebagai Tuhan dan Muhammad sebagai Rasul panutan. Anak Melayu lebih dahulu diperkenalkan mengaji al Qur’an, baru mengenal ilmu pengetahuan yang lain. Kata “Laailaha Illallah Muhammadarosulullah” sebagai gerbang keislaman, selalu dipakai Orang Melayu dalam berbagai amalan, karena melayu percaya bahwa semua amalan akan tidak tertolak dalam pemahaman Islam jika mengucap Laailaha Illallah Muhammadarosulullah

Makanya jika seorang anak berkelakuan menyimpang dari kaedah yang diatur, maka ia disebut, “Macam anak siarahan, Macam anak tak disyahadatkan”.

“Bergantung kepada satu, berpegang kepada yang Esa”.

“untuk apa meramu samak
kalau tidak dgn pangkalnya
untuk apa berilmu banyak
kalau tidak dengan amalnya”.

“Budak jambi sdg menampi
Alahai budak tinggal sanggulnya
Banyak jampi perkara jampi
Allah jua letak kabulnya”.

Jadi Melayu adalah: “Beragama Islam, beradat resam Melayu dan Berbahasa Melayu”.

Karena ikatan Islam itulah, Orang melayu yang masih berpegang pada konsep tradisi namun akan takut jika tidak disebut Islam.(Muhar Omtatok)

3 komentar:

msarbini09 mengatakan...

Asamulaikom Tuan M Muhar Omtatok,

Saya amat bersetuju sekali dengan huraian tuan tentang Melayu Malaysia yang mana Jawa, Mandailing, Bugis, Keling dan lainnya meletakkan diri mereka sebagai Melayu. Untuk supaya teman-teman di Indonesia lebih memahami biarlah membuat sedikit penambahan. Melayu Malaysia terdiri daripada Melayu Dagang (asal Indonesia) yang merupakan mayoritas ( 70 persen) Melayu Asal(Bukan orang asli/Sakai) yang terdiri daripada Melayu Kedah,Perlis,Kelantan/Patani dan Trengganu. Mereka ini dikatakan hanya berjumlah 20 persen dan Melayu Peranakan (Arab dan Keling)yang berjumlah 10 persen. Untuk pengetahuan semua puak-puak bersatu dan dilayan sebagai 1Melayu yang tidak dibeda-bedakan dan semua Melayu yang merupakan 50 persen daripada populasi Malaysia di beri taraf sebagai peribumi Malaysia.
Wasallam

msarbini09 mengatakan...

Populasi Melayu dalam jumlah 50 % tetapi bila di tambah peribumi bukan Islam jumlah populasi peribumi menjadi 55%

junaidi arjun mengatakan...

mantap nian cik muhar..... sukses selalu ye pk cik