Kamis, 24 November 2011

Tanjung Kasau



Tanjung Kasau saat ini merupakan wilayah penduduk dan perkebunanyang yang kini masuk dalam Kabupaten Batubara dan berperinggan dengan Simalungun – Sumatera Utara. PT Perkebunan Tanjung Kasau yang dikelola Pemerintah Provinsi Sumatera Utara ini, dengan lahan Hak Guna Usaha (HGU) Kebun Tanjung Kasau luasnya 2591 hektar.

Sejarah Tanjung Kasau bermula dari Datuk Paduka Tuan, Raja Mansur Shah & Raja Ali Kadir berserta rombongannya, tiba di salah satu daerah wilayah Batubara dan selanjutnya membuka kampong disana. Raja Mansur Shah & Raja Ali Kadir adalah putra dari Datuk Paduka Tuan yang berasal dari Bukit Gombak.Selanjutnya wilayah ini menjadi makmur. Masyarakat pedalaman berbondong-bondong mengadu nasib di wilayah ini dan diterima.

Kemudian Portugis yang berkedudukan di Malaka datang dan ingin menguasai. Kedatangan dan ingin menguasai oleh Portugis, menimbulkan peperangan. Kampung dibuat Tangga –tangga besi yang dibakar sebagai upaya mengusir Portugis, dan berhasil. Sejak peristiwa tersebut, kampong itu dikenal dengan nama Tangga Bosi. Kebesaran Aceh yang memiliki legitimasi, membuat Raja Mansur Shah menemui Sultan Aceh, dan meminta bantuan.

Aceh mengirim empat Panglima, yaitu Puanglima Gugup, Puanglima Si Payung, Puanglima Mukin dan Puanglima Maher. Panglima-panglima ini dilengkap persenjataan lengkap dan memimpin pembuatan Benteng dengan lela (meriam). Sejak itu Portugis menyingkir. Puanglima Maher dan Puanglima Mukin pulang ke Aceh, selanjutnya Raja Mansur Shah dirajakan di Tangga Bosi. Putranya, Raja Adim membuat kampong Tanjung Matoguk. Di masa Raja Adim ini, Raja Umar Baginda Saleh dari Padang ( saat ini Tebingtinggi dan sekitarnya) mengadakan perjanjian perwatasan wilayah, termasuk dengan Bedagai dan Tanjung.



Putra Raja Adim, yaitu Raja Ahmad membuka kampong di Tanjung Bolon. Untuk mendapat pengakuan, Raja Ahmad dengan menaiki kapal Gajah Ruku - sebuah kapal yang menandakan sebuah prestise kala itu, menghadap Sultan Aceh. Sultan Aceh memberi legitimasi dan menabalkan Raja Ahmad menjadi Raja Alam Perkasa (orang tempatan menyebut dengan dialek Rajo Alam Perkaso), hingga Tanjung Bolon dinamakan Tanjung Perkaso atau Tanjung Kaso, selanjutnya dilafalkan menjadi Tanjung Kasau.

Raja Alam Perkasa mempunyai putra, yaitu Raja Bolon dan Raja Muda Indera Jati. Setelah Raja Alam Perkasa mangkat, digantikan oleh Raja Bolon, dan Indera Jati menjadi Raja muda. Raja Bolon selanjutnya membuka kampong Tanjung Meraja. Raja Bolon memilki 3 putera, penggantinya adalah Raja Sabda. Raja Sabda digantikan Raja Said (membuat kampong Huta Usang). Raja Said memilki 5 putera. Putra pengganti Raja Said adalah Raja Matsyah (Muhammadsyah).

Ketika Van Assen menjadi Kontelir Asahan, Negeri Tanjung Kasau diambil menjadi bagian Hindia Belanda. Saat itu Raja Matsyah diberi besluit 16 Oktober 1882. Kontelir Asahan dan Batubara, Van Assen, tertanggal 16 Oktober 1882 menyebutkan bahwa, “Radja Djintanali van een vorstelijk moeder: Radja Madsah van een orang ketjil. Radja Djintanali is de broeder van Radja Matsah, een oprechte en geode Battakker, Radja Matsah is better om te onderhandelen, daar hij goed Maleisch spreekt”. – “Raja Jintan Ali berasal dari ibu yang turunan bangsawan Melayu sedangkan Raja Matsyah beribukan orang kebanyakan (orang kecil). Raja Jintan Ali adalah saudara dari Raja Matsyah, masih ada darah Battakker (maksudnya Simalungun) yang tulus dan baik. Raja Matsyah pandai bernegosisasi karena mampu berbahasa Melayu dengan fasih”.

Entah sebab apa, Raja Matsyah (Muhammadsyah) tergantikan oleh Jintan Ali. Mungkin saja sebuah kudeta, entahlah, yang pasti Jintan Ali ini membuat kampong Limau Kayu. Saat itu merupakan kesempatan emas bagi pemerintah Hindia Belanda. Jintan Ali dan pembesarnya dilantik oleh Kontelir Batubara, BA Kroesen.Tanjung Kasau di tahun 1888.

Raja Jintan Ali memilki 9 putera, saat usia tua, Raja Jintan Ali menyuruh putera tertuanya, Raja Morah, untuk memangku kerajaan. Raja Morah membuat kampong baru, yaitu Mabar. Raja Morah memilki 11 anak. Pada 1900, Raja Morah dijatuhkan belanda, lalu digantikan oleh adiknya, Raja Marahudin, yang membangun kampong Suka. Raja Marahudin memilki 6 anak. Dilanjutkan putra tertua dari Raja Morah menjadi raja karena sudah akil balig walau Raja Marahudin belum mangkat, Raja Pemangku itu bernama Raetal.

Raja Raetal mangkat mendadak, lalu Mat Yassin gelar Bentara (menantu Raja Jintanali) menjadi Pemangku hingga ia meninggaldunia, selama 11 tahun berkuasa. Kontelir Batubara, Radersma, pada 1916 mencampuri Tanjung Kasau dengan mencalonkan mantan Jaksa asal Bilah, yaitu Abdul Somad gelar Tengku Busu menjadi Pemangku Negeri Tanjung. Dari sisi Tanjung Kasau, dihunjuk pula Raja Poso (garis turunan Raja Morah) dan Raja Injar (garis turunan Puanglima Si Payung yang berasal dari Aceh itu).

Dengan Besluit Gouverneur-General tahun 1920, Tanjung Kasau disatukan dengan Batubara, sama halnya dengan Tanjung, Sipare-Pare, dan Pagurawan. Lalu di Inderapura dibentuk pemerintahan kerajaan versi Pemerintahan Hindia Belanda, Tengku Abdul Somad (Abdullah Seman) alias Tengku Busu menanda tangani Korte Verklaring  21 Oktober 1920.


*(M Muhar Omtatok - dari berbagai sumber dokumen)


Photo tahun 1949, dari kiri - kanan:  Rosmalina (putri dari Hoofd Penghulu Bandar Tinggi - Pangulu Amat, Seorang Bangsawan Melayu temurun Kejeruan Hinai yang merantau ke Pagurawan, yang diangkatkan oleh Tuan Dista Bulan dalam acara adat menjadi leader di Bandar Tinggi), Tengku Syariah & Tengku Hindun (putri dari bangsawan Tanjung Kasau.Saya mungkin belum bersua dengan Tengku Syariah, namun dengan Tengku Hindun saya dulu sering bersua. Namun yang saya tahu, Tengku Syariah turunan Raja Merah Muda, putri dari Tengku Hasan & Tengku Nur, Kakak dari Tengku Zulkarnain, setidaknya itu penjelasan ibu saya yang masih saya ingat ). Berphoto di Tebingtinggi, setelah mengungsi akibat revolusi sosial tahun 1946, yang juga berimbas bagi Hoofd Penghulu Bandar Tinggi dan Bangsawan Tanjung Kasau.* (koleksi: Hj Rosmalina)


Kamis, 03 November 2011

Makna Berkapur Sirih Bagi Orang Melayu

Tradisi makan sirih merupakan warisan budaya masa silam, lebih dari 3000 tahun yang lampau atau dizaman Neolitik, hingga saat ini. Budaya makan sirih hidup di Asia Tenggara.

Pada mayarakat Puak Melayu, selain untuk dimakan sirih sebagai lambang adat resam dan adat istiadat Melayu yang telah menjadi suatu kepastian di dalam beberapa upacara adat kaum di rantau-rantau Melayu. Dari Upacara Pernikahan hingga Pengobatan tradisi.
Sirih junjung dihias cantik sebagai sebahagian barang hantaran pengantin dan juga sirih penyeri kepada pengantin perempuan. Selain itu di dalam upacara resmi kebesaran istana dan kerajaan juga, sirih junjung memainkan peranan penting, sirih menjadi penyeri majelis dan mengepalai sesuatu perarakan yang diadakan.

Sirih untuk dimakan didalam adat resam puak Melayu diletakkan di dalam tempat yang disebut Tepak Sirih. Tepak terbuat dari kayu berukir, dalam suasana adat tepak dibungkus kain berhias. Ada pula tepak yang berukir terbuat dari logam tertentu. Di beberapa rantau Melayu, Cerana juga difungsikan untuk meletakkan sirih dan pelengkapnya. *(M Muhar Omtatok)

Berikut ini, penjelasan Cik ZAIRI ERIE di Selat Panjang dan Tengku MANSOER ADIL MANSOER di Belanda, mengenai Makna Berkapur Sirih Bagi Orang Melayu:

Zairi Erie



Dalam kehidupan orang melayu dikenal sebagai sebuah tradisi yang disebut dengan berkapur sirih, yaitu tradisi makan sirih yang diramu dengan kapur dan pinang. Tradisi makan sirih merupakan warisan budaya masa silam, lebih dari 300 tahun yang lampau hingga sat ini.

Budaya makan sirih hidup di Asia Tenggara. Pendukung budaya ini terdiri dari berbagai golongan, meliputi masyarakat kelas bawah, pembesar negara, serta kalangan istana.

Tepak sirih digunakan sebagai perangkat yang tidak boleh dilupakan dalam acara-upacara resmi adat. Oleh karena tepak sirih merupakan simbol yang memiliki arti penting, maka pemakaiannya tidak boleh sembarangan.



Di dalam tepak sirih terdapat beberapa perlengkapan yang lainnya seperti Cembul yang berjumlah empat atau lima yang digunakan untuk tempat menyimpan pinang, gambir, kapur, tembakau, dan bunga cengkeh. Bekas sirih yang digunakan untuk menyimpan sirih. Kacip, yang merupakan alat yang berfungsi sebagai pisau untuk memotong dan menghiris buah pinang atau obat-obat tradisional yang terdiri dari tumbuh-tumbuhan.



Gobek, adalah tempat penumbuk sirih yang telah dilengkapi dengan kapur, gambir, pinang, dan cengkeh. Ketur, adalah tempat berludah. Orang yang memakan sirih pasti akan sering mengeluarkan ludah yang berwarna merah, pekat.



Didalam tradisi makan sirih sering disebut dengan ramuan berkapur sirih, yang biasanya dilengkapi dengan sirih, pinang, gambir, tembakau dan kapur. Semua ramuan atau bahan yang digunakan dalam berkapur sirih memiliki makna dan falsafah tersendiri, yang mana sirih memiliki lambang sifat rendah hati, memberi, serta selalu memuliakan orang.

Makna ini ditafsirkan dari cara tumbuh sirih yang memanjat pada para-para,batang pohon sakat, atau batang pohon api-api yang digemarinya, tanpa merusakkan batang atau apapun tempat ia hidup.

Kapur yang memberi lambang hati yang putih bersih dan serta tulus, tetapi jika keadaan memaksa, ia akan berubah menjadi lebih agresif dan marah.

Gambir memiliki rasa pahit melambangkan kecekalan atau keteguhan hati. Makna diperoleh dari warna daun gambir kekuning kuningan. Dimaknai bahwa sebelum mencapai sesuatu, kita harus sabar melakukan proses untuk mencapainya.

Pinang melambangkan keturunan orang yang baik budi pekerti, jujur,serta memiliki derajat tinggi. Bersedia melakukan suatu pekerjaan dengan hati terbuka dan bersungguh sungguh. Makna ini ditarik dari sifat pohon pinang yang tinggi lurus keatas serta mempunyai buah yang lebat dalam setandan.

Tembakau melambangkan hati yang tabah dan bersedia berkorban dalam segala hal. Ini karena daun tembakau memiliki rasa yang pahit dan memabukkan bila diiris halus sebagai tembakau,dan tahan lama disimpan.

Tengku Mansoer Adil Mansoer




Dalam buku Butir Butir Adat Budaya Melayu Pesisir Sumatera Timur dituliskan: Sirih - Pohon yang bersifat memanjat yang perlu akan sandaran tetapi tidak merusak tempatnya menyandar. Rasa daunnya pedas berarti berani. Sirih juga jadi penawar. Dapatlah sirih ini diartikan : dengan sadar merendahkan diri dan sengaja memuliakan orang lain, sedangkan dia sendiri sebenarnya adalah seorang pemberani dan penawar.

Kapur -didapat setelah kerang/batu kapur dibakar dan diairi. Rupanya putih bersih, sifatnya hangat dan medecupkan (membakar). Rasanya payau. Dapatlah kapur itu diartikan: Menyatakan hati putih bersih terhadap sesuatu yang dihadapi, tapi jika perlu dapat pula marah dan melukai, tahan dilebur untuk tujuan yang baik.
Gambir atau kacu diperoleh setelah melalui beberapa usaha dalam perebusan dan penyaringan daun gambir. Rupanya agak kekuning-kuningan, sifatnya "penyamak" rasanya sepat (kelat) dan agak kepahitan. Dapatlah gambir ini diartikan: Menyatakan keuletan (keliatan) dan penguatkan sesuatu.

Pinang tumbuhnya lurus keatas dan berbuah banyak dan setandan. Rupa pinang yang dikupas agak bulat, sifatnya keras dan "penyamak", rasanya kelat. Jika dibelah nampak hatinya (pulurnya) yang agak keputihan. Dapatlah pinang itu diartikan: Menyatakan turunan orang baik baik (tinggi dan lurus) yang bersedia dibelah untuk berbuat membersihkan sesuatu dengan hati yang terbuka dan dengan segala kesunguhan.

Tembakau. Daun tembakau diiris-iris dan dikeringkan untuk tahan lama disimpan dan setiap waktu dapat dipergunakan, Rasanya pahit dan sifatnya memabukkan. Dapatlah tembakau ini diartikan: Menyatakan tahan segala-galanya dan jika perlu bersedia berkorban. Dengan pendek kata: serba judi, buruk atau baik, guna membuang yang jahat.

Menurut penulis, jika sirih disorongkan orang kepada kita, maka dapatlah diartikan sebagai berikut: Orang-orang yang menyorongkan sirih itu seolah-olah berkata; “Wahai Tuan, dengan kesungguhan dan kerendahan hati, saya menghormati Tuan, yang moga moga membawa kebaikan. Tetapi janganlah Tuan anggap rendah atas diri saya disebabkan perbuatan saya ini, oleh sebab jika perlu, saya dapat mempertahankan derajad saya kalau Tuan langgar. Terserahlah kepada Tuan utk memilih ‘hendak buruk’ atau ‘hendak baik’ untuk saya ‘serba jadi’ “. Memakan sirih sekapur yg disorongkan orang berarti perdamaian dan persahabatan.